SIROSIS HEPATIS
NAMA KELOMPOK 1 :
1.
MARDONIUS DONNY
2.
MUHAMMAD FAJAR
3.
NUR SUSANTI
4.
PERI PIRNANDO
5.
SAKBIYAN
6.
ULI KRISTIANI S
MATA AJAR : ESSENTIAL OF PATHOPHYSIOLOGY
DOSEN PEMBIMBING : ERIKA LUBIS, SKp. MN
BINAWAN INSTITUTE OF HEALTH SCIENCES
2015
BAB. I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sirosis Hepatis (Sirosis Hati) adalah penyakit hati menahun yang difus
ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Biasanya
dimulai dengan adanya proses peradangan nekrosis sel hati yang luas,
pembentukan jaringan ikat dan usaha regenerasi nodul. Distorsi arsitektur hati
akan menimbulkan perubahan sirkulasi mikro dan makro menjadi tidak teratur
akibat penambahan jaringan ikat dan nodul tersebut (Suzanne C. Smeltzer dan
Brenda G. Bare, 2001).
Di
seluruh dunia sirosis menempati urutan ketujuh penyebab kematian (Sutadi,
2003). Sementara di negara maju, sirosis hepatis merupakan penyebab kematian
terbesar ketiga pada pasien yang berusia 45- 46 tahun (setelah penyakit kardiovaskuler
dan kanker). Angka kejadian sirosis hepatis dari hasil otopsi sekitar 2,4% di
negara Barat, sedangkan di Amerika diperkirakan 360 per 100.000 penduduk dan
menimbulkan sekitar 35.000 kematian pertahun (Nurdjanah, 2009). Kejadian di
Indonesia menunjukkan bahwa pria lebih banyak dari wanita (2,4-5:1) (Sihotang,
2010). Walaupun belum ada data resmi nasional tentang sirosis hepatis di
Indonesia, namun dari beberapa laporan rumah sakit umum pemerintah di Indonesia
secara keseluruhan prevalensi sirosis adalah 3,5% dari seluruh pasien yang
dirawat di bangsal penyakit dalam atau rata-rata 47,4% dari seluruh pasien
penyakit hati yang dirawat di bangsal.
B.
Tujuan
Penulisan
1. Tujuan Umum
Tujuan
umum penulisan makalah ini untuk menyelesaikan tugas mata ajar Essential Of Pathophysiology
2. Tujuan Khusus
a.
Mahasiswa mengetahui dan memahami definisi dari Serosis Hepatis
b. Mahasiswa mengetahui dan memahami Anatomi dan Fisiologi
organ hati.
c. Mahasiswa mengetahui dan memahami Etiology dari Serosis Hepatis.
d. Mahasiswa mengetahui dan memahami Patophysiology dan pathway
dari Serosis Hepatis
e. Mahasiswa mengetahui dan memahami manifestasi klinik
dari Serosis Hepatis
f. Mahasiswa mengetahui dan memahami Komplikasi dari Serosis Hepatis
g. Mahasiswa mengetahui dan memahami Mannagemen dari Serosis Hepatis
BAB
II
KAJIAN
TEORI
A. Definisi
Sirosis Hepatis (Sirosis Hati) adalah penyakit hati kronis yang tidak
diketahui penyebabnya dengan pasti. Telah diketahui bahwa penyakit ini
merupakan stadium terakhir dari penyakit hati kronis dan terjadinya pengerasan
dari hati (Sujono H, 2002).
Sirosis Hepatis (Sirosis Hati) adalah penyakit hati menahun yang difus
ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Biasanya
dimulai dengan adanya proses peradangan nekrosis sel hati yang luas,
pembentukan jaringan ikat dan usaha regenerasi nodul. Distorsi arsitektur hati
akan menimbulkan perubahan sirkulasi mikro dan makro menjadi tidak teratur
akibat penambahan jaringan ikat dan nodul tersebut (Suzanne C. Smeltzer dan Brenda
G. Bare, 2001).
Sirosis Hepatis (Sirosis Hati) adalah penyakit hati menahun yang
difus, ditandai dengan adanya pembentukan jaringan disertai nodul. Dimulai
dengan proses peradangan, nekrosis sel hati yang luas, pembentukan jaringan
ikat dan usaha regenerasi nodul. (Iin Inayah, 2004).
Ada 3 tipe sirosis atau pembentukan parut dalam hati :
1.
Sirosis
portal laennec (alkoholik nutrisional), dimana jaringan parut secara khas
mengelilingi daerah portal.Sering disebabkan oleh
alkoholis kronis.
2.
Sirosis pascanekrotik,
dimana terdapat pita jaringan parut yang lebar sebagai akibat lanjut dari
hepatitis virus akut yang terjadi sebelumnya.
3.
Sirosis
bilier, dimana pembentukan jaringan parut terjadi dalam hati di sekitar saluran
empedu. Terjadi akibat obstruksi bilier yang
kronis dan infeksi (kolangitis).
Bagian hati yang terlibat terdiri atas
ruang portal dan periportal tempat kanalikulus biliaris dari masing-masing
lobulus hati bergabung untuk membentuk saluran empedu baru. Dengan demikian
akan terjadi pertumbuhan jaringan yang berlebihan terutama terdiri atas saluran
empedu yang baru dan tidak berhubungan yang dikelilingi oleh jaringan parut.
B.
Anatomi dan
Fisisologi
1.
Anatomi Hati
Hati adalah organ yang
terbesar yang terletak di sebelah kanan atas rongga perut di bawah diafragma.
Beratnya 1.500 gr atau 2,5 % dari berat badan orang dewasa normal. Pada kondisi
hidup berwarna merah tua karena kaya akan persediaan darah.
Hati terbagi menjadi
lobus kiri dan lobus kanan yang dipisahkan oleh ligamentum
falciforme, di inferior oleh fissure dinamakan dengan ligamentum
teres dan di posterior oleh fissure dinamakan denganligamentum
venosum. . Lobus kanan hati enam kali lebih besar dari lobus kirinya
dan mempunyai 3 bagian utama yaitu : lobus kanan atas, lobus caudatus,
dan lobus quadrates. Hati dikelilingi oleh kapsula
fibrosa yang dinamakan kapsul glisson dan dibungkus peritorium pada sebagian
besar keseluruhan permukaannnya.
Hati disuplai oleh dua
pembuluh darah yaitu : Vena porta hepatica yang berasal dari
lambung dan usus, yang kaya akan nutrien seperti asam amino, monosakarida,
vitamin yang larut dalam air, dan mineral dan Arteri hepatica, cabang
dari arteri kuliaka yang kaya akan oksigen.
Untuk lebih jelasnya
anatomi hati dapat dilihat pada gambar berikut:
Sumber : Leanerhelp Image Liver
Untuk perbedaan hati
yang sehat dengan yang sirosis dapat dilihat pada gambar berikut
Sumber : Info Kesehatan Fungsi Organ Hati
1.
Fungsi Hati
Hati selain salah satu
organ di badan kita yang terbesar , juga mempunyai fungsi yang terbanyak.
Fungsi dari hati dapat dilihat sebagai organ keseluruhannya dan dapat dilihat
dari sel-sel dalam hati.
a. Fungsi hati sebagai organ keseluruhannya diantaranya ialah;
1) Ikut mengatur keseimbangan cairan dan elekterolit,
karena semua cairan dan garam akan melewati hati sebelum ke jaringan
ekstraseluler lainnya.
2) Hati bersifat sebagai spons akan ikut
mengatur volume darah, misalnya pada dekompensasiokordis kanan maka
hati akan membesar.
3) Sebagai alat saringan (filter)
Semua makanan dan
berbagai macam substansia yang telah diserap oleh intestine akan
dialirkan ke organ melalui sistema portal.
b. Fungsi dari sel-serl hati dapat dibagi
1) Fungsi Sel Epitel di antaranya ialah:
a) Sebagai pusat metabolisme di antaranya metabolisme hidrat, arang, protein,
lemak, empedu, Proses metabolisme akan diuraikan sendiri.
b) Sebagai alat penyimpan vitamin dan bahan makanan hasil metabolisme. Hati
menyimpan makanan tersebut tidak hanya untuk kepentingannnya sendiri tetapi
untuk organ lainya juga.
c) sebagai alat sekresi
untuk keperluan badan kita: diantaranya akan mengeluarkan glukosa, protein,
factor koagulasi, enzim, empedu.
d) Proses detoksifikasi, dimana berbagai macam toksik baik eksogen maupun
endogen yang masuk ke badan akan mengalami detoksifikasi dengan cara oksidasi,
reduksi, hidrolisa atau konjugasi.
e) Fungsi sel kupfer sebagai sel endotel mempunyai fungsi
sebagai sistem retikulo endothelial.
f) Sel akan menguraikan Hb menjadi bilirubin
g) Membentuk a-globulin dan immune bodies.
h) Sebagai alat fagositosis terhadap bakteri dan elemen puskuler atau
makromolekuler.
C.
Etiologi
Penyebab Chirrosis Hepatis :
Secara morfologis, penyebab sirosis hepatis tidak dapat dipastikan. Tapi
ada dua penyebab yang dianggap paling sering menyebabkan Chirrosis
hepatis adalah:
1.
Hepatitis virus
Hepatitis virus terutama tipe B sering disebut sebagai salah satu penyebab
chirrosis hati, apalagi setelah penemuan Australian Antigen oleh Blumberg pada
tahun 1965 dalam darah penderita dengan penyakit hati kronis , maka diduga
mempunyai peranan yang besar untuk terjadinya nekrosa sel hati sehingga terjadi
chirrosisi. Secara klinik telah dikenal bahwa hepatitis virus B lebih banyak
mempunyai kecenderungan untuk lebih menetap dan memberi gejala sisa serta
menunjukan perjalanan yang kronis, bila dibandingkan dengan hepatitis virus A
2.
Zat hepatotoksik atau
Alkoholisme.
Beberapa obat-obatan dan bahan kimia dapat menyebabkan terjadinya kerusakan
pada sel hati secara akut dan kronis. Kerusakan hati akut akan berakibat nekrosis
atau degenerasi lemak, sedangkan kerusakan kronis akan berupa sirosis hati. Zat
hepatotoksik yang sering disebut-sebut ialah alcohol. Sirosis hepatis oleh
karena alkoholisme sangat jarang, namun peminum yang bertahun-tahun
mungkin dapat mengarah pada kerusakan parenkim hati.
3.
Hemokromatosis
Bentuk chirrosis yang terjadi biasanya tipe portal. Ada dua kemungkinan
timbulnya hemokromatosis, yaitu:
a. Sejak dilahirkan si penderita menghalami kenaikan absorpsi dari Fe.
b. Kemungkinan didapat setelah lahir
(acquisita), misalnya dijumpai pada penderita dengan penyakit hati alkoholik.
Bertambahnya absorpsi dari Fe, kemungkinan menyebabkan timbulnya sirosis hati.
D.
Patophysiologi
dan pathway
1.
Patophysiologi
Kerusakan pada hati
dapat terjadi pada peminum alkohol aktif atau pada hepatitis kronis. Hati
merespon kerusakan sel tersebut dengan membentuk ekstraselular matriks yang
mengandung kolagen, glikoprotein, dan proteoglikans. Sel yang berperan dalam
proses ini adalah sel stellata. Pada
cedera akut sel stellata akan membentuk kembali ekstra seluler matriks yang
akan memicu timbulnya jaringan parut disertai terbentuknya septa fibrosa difus dan nodul sel hati
sehingga ditemukan pembengkakan pada hati. Peningkatan deposisi kolagen pada
perisinusoidal dan berkurangnya ukuran dari endotel hepatic mnyebabkan
kapilerisasi dari sinusoid. Sel stellata dalam memproduksi kolagen mengalami
kontraksi yang cukup besar untuk menekan daerah perisinusoid. Adanya
kapilerisasi dan kontraktilitas sel stellata inilah yang menyebabkan penekanan
pada banyak vena di hati sehingga mengganggu proses aliran darah ke sel hati
dan akhirnya sel hati mati. Kematian hepatocytes dalam jumlah besar akan
menyebabkan banyaknya fungsi hati yang rusak sehingga menyebabkan banyak gejala
klinis.
Kompresi dari vena pada
hati akan menyebabkan hypertensi portal yang merupakan keadaan utama penyebab
manifestasi klinis. Mekanisme primer penyebab hipertensi portal adalah
peningkatan resistensi terhadap aliran darah melalui hati. Selain itu biasanya
terjadi peningkatan aliran arteri splangnikus. Kombinasi kedua faktor ini yaitu
menurunnya aliran masuk bersama sama yang menghasilkan beban berlebihan pada
sistem portal. Salah satu manifestasinya adalah varises yang dapat terjadi di
esofagus, dan rectum, yang dapat menjadi ruptur dan memicu terjadinya
perdarahan.
Hipertensi portal ini
mengakibatkan penurunan volume intravascular sehingga perfusi ginjal menurun.
Hal ini meningkatkan aktifitas plasma rennin sehingga aldosteron juga
meningkat. Aldosteron berperan dalam mengatur keseimbangan elektrolit terutama
natrium. Dengan peningkatan aldosteron maka terjadi retensi natrium yang pada
akhirnya menyebabkan retensi cairan dan lama lama menyebabkan ascites dan
edema. Ascites merupakan penimbunan cairan intraperitoneal yang mengandung
sedikit protein, disebabkan oleh peningkatan tekana hidrostatik pada kapiler
usus dan peurunan osmotik koloid akibat hipoalbuminemia. Patofisiologi sirosis
hepatis sendiri dimulai dengan proses peradangan, lalu nekrosis yang meluas
yang akhirnya menyebabkan pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Sirosis
pasca necrotik terjadi setelah nekrosis berbercak pada jaringan hati yang
sebelumnya memiliki riwayat hepatitis virus dan juga bisa diakibatkan oleh
intoksikasi yang pernah diketahui dengan bahan kimia industri, racun, maupun
obat- obatan seperti fosfat, kontrasepsi oral, metil dopa arseni, dan karbon
tetraklorida. Sirosis biliaris yang paling sering disebabkan oleh obstruksi
biliaris. Statis empedu yag menyebabkan penumpukan empedu didalam massa hati
dan kerusakan sel sel hati dan terbetuknya fibrosa di tepi lobulus. Hati akan
membesar, keras, bergranula halus, dan berwarna kehijauan akan menyebabkan
ikterus, pruritus, dan mal absorbsi. 
|
|
Pathway Sirosis Hepatis (Sirosis Hati)
|
E.
Manifestasi
Klinis
1.
GEJALA
Gejala chirrosis hati mirip dengan hepatitis, karena terjadi sama-sama di
liver yang mulai rusak fungsinya, yaitu: kelelahan, hilang nafsu makan,
mual-mual, badan lemah, kehilangan berat badan, nyeri lambung dan munculnya
jaringan darah mirip laba-laba di kulit (spider angiomas). Pada
chirrosis terjadi kerusakan hati yang terus menerus dan terjadi regenerasi
noduler serta ploriferasi jaringan ikat yang difus.
2.
TANDA KLINIS
Tanda-tanda klinik yang
dapat terjadi yaitu:
a.
Adanya ikterus
(penguningan) pada penderita chrirosis.
Timbulnya ikterus (penguningan ) pada seseorang merupakan tanda bahwa ia
sedang menderita penyakit hati. Penguningan pada kulit dan mata terjadi ketika
liver sakit dan tidak bisa menyerap bilirubin. Ikterus dapat
menjadi penunjuk beratnya kerusakan sel hati. Ikterus terjadi sedikitnya pada
60 % penderita selama perjalanan penyakit
b.
Timbulnya asites dan
edema pada penderita chirrosis
Ketika liver kehilangan kemampuannya membuat protein albumin, air menumpuk
pada kaki (edema) dan abdomen (ascites). Faktor utama asites adalah peningkatan
tekanan hidrostatik pada kapiler usus . Edema umumnya timbul setelah timbulnya
asites sebagai akibat dari hipoalbuminemia dan resistensi garam dan air.
c.
Hati yang membesar
Pembesaran hati dapat ke atas mendesak diafragma dan ke bawah. Hati
membesar sekitar 2-3 cm, dengan konsistensi lembek dan menimbulkan rasa nyeri
bila ditekan.
d.
Hipertensi portal
Hipertensi portal adalah peningkatan tekanan darah vena portal yang menetap
di atas nilai normal. Penyebab hipertensi portal adalah peningkatan resistensi
terhadap aliran darah melalui hati.
F.
Pemeriksaan Penunjang
1.
Pemeriksaan Laboratorium
a.
Darah
Biasanya dijumpai normostik normokronik anemia yang ringan, kadang –kadang
dalam bentuk makrositer yang disebabkan kekurangan asam folik dan vitamin B12
atau karena splenomegali. Bilamana penderita pernah mengalami perdarahan
gastrointestinal maka baru akan terjadi hipokromik anemi. Juga dijumpai
likopeni bersamaan dengan adanya trombositopeni.
b.
Urine
Dalam urine terdapat urobilnogen juga terdapat bilirubin bila penderita ada
ikterus. Pada penderita dengan asites , maka ekskresi Na dalam urine berkurang
( urine kurang dari 4 meq/l) menunjukkan kemungkinan telah terjadi syndrome
hepatorenal.
c.
Tinja
Terdapat kenaikan kadar sterkobilinogen. Pada penderita dengan ikterus,
ekskresi pigmen empedu rendah. Sterkobilinogen yang tidak terserap oleh darah,
di dalam usus akan diubah menjadi sterkobilin yaitu suatu pigmen yang
menyebabkan tinja berwarna cokelat atau kehitaman.
d.
Tes Faal Hati
Penderita sirosis banyak mengalami gangguan tes faal hati, lebih lagi
penderita yang sudah disertai tanda-tanda hipertensi portal. Pada sirosis
globulin menaik, sedangkan albumin menurun. Pada orang normal tiap hari akan
diproduksi 10-16 gr albumin, pada orang dengan sirosis hanya dapat disintesa
antara 3,5-5,9 gr per hari. Kadar normal albumin dalam darah 3,5-5,0
g/dL38. Jumlah albumin dan globulin yang masing-masing diukur
melalui proses yang disebut elektroforesis protein serum. Perbandingan normal
albumin : globulin adalah 2:1 atau lebih. Selain itu,
kadar asam empedu juga termasuk salah satu tes faal hati yang peka untuk
mendeteksi kelainan hati secara dini.
2.
Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
a.
Radiologi
Pemeriksaan radiologi yang sering dimanfaatkan ialah,: pemeriksaan
fototoraks, splenoportografi, Percutaneus Transhepatic Porthography (PTP)
b.
Ultrasonografi
Ultrasonografi (USG) banyak dimanfaatkan untuk mendeteksi kelaianan di
hati, termasuk sirosi hati. Gambaran USG tergantung pada tingkat berat
ringannya penyakit. Pada tingkat permulaan sirosis akan tampak hati membesar,
permulaan irregular, tepi hati tumpul, . Pada fase lanjut terlihat perubahan
gambar USG, yaitu tampak penebalan permukaan hati yang irregular. Sebagian hati
tampak membesar dan sebagian lagi dalam batas nomal.
c.
Peritoneoskopi
(laparoskopi)
Secara laparoskopi akan tampak jelas kelainan hati. Pada sirosis hati akan
jelas kelihatan permukaan yang berbenjol-benjol berbentuk nodul yang besar atau
kecil dan terdapatnya gambaran fibrosis hati, tepi biasanya tumpul. Seringkali
didapatkan pembesaran limpa.
G.
Komplikasi
Komplikasi chirrosis hati yang dapat terjadi antara lain:
1.
Perdarahan
Penyebab perdarahan
saluran cerna yang paling sering dan berbahaya pada chirrosis hati adalah
perdarahan akibat pecahnya varises esofagus. Sifat perdarahan yang ditimbulkan
ialah muntah darah atau hematemesis, biasanya mendadak tanpa didahului rasa
nyeri. Darah yang keluar berwarna kehitam-hitaman dan tidak akan membeku karena
sudah bercampur dengan asam lambung. Penyebab lain adalah tukak lambung dan
tukak duodeni.
2.
Koma hepatikum
Timbulnya koma hepatikum
akibat dari faal hati yang sudah sangat rusak, sehingga hati tidak dapat
melakukan fungsinya sama sekali. Koma hepatikum mempunyai gejala karakteristik
yaitu hilangnya kesadaran penderita. Koma hepatikum dibagi menjadi dua, yaitu:
Pertama koma hepatikum primer, yaitu disebabkan oleh nekrosis hati yang meluas
dan fungsi vital terganggu seluruhnya, maka metabolism tidak dapat berjalan
dengan sempurna. Kedua koma hepatikum sekunder, yaitu koma hepatikum yang
timbul bukan karena kerusakan hati secara langsung, tetapi oleh sebab lain,
antara lain karena perdarahan, akibat terapi terhadap asites, karena
obat-obatan dan pengaruh substansia nitrogen.
3.
Ulkus Peptikum
Timbulnya ulkus peptikum
pada penderita Sirosis Hepatis lebih besar bila dibandingkan dengan penderita
normal. Beberapa kemungkinan disebutkan diantaranya ialah timbulnya hiperemi
pada mukosa gaster dan duodenum, resistensi yang menurun pada mukosa, dan
kemungkinan lain ialah timbulnya defisiensi makanan
4.
Karsinoma Hepatoselular
Kemungkinan timbulnya
karsinoma pada Sirosis Hepatis terutama pada bentuk postnekrotik ialah karena
adanya hiperplasi noduler yang akan berubah menjadi adenomata multiple kemudian
berubah menjadi karsinoma yang multiple
5.
Infeksi
Setiap penurunan
kondisi badan akan mudah kena infeksi, termasuk juga penderita sirosis, kondisi
badannya menurun. Infeksi yang sering timbul pada penderita sirosis,
diantaranya adalah : peritonitis, bronchopneumonia, pneumonia, tbc paru-paru,
glomeluronefritis kronik, pielonefritis, sistitis, perikarditis, endokarditis, erysipelas
maupun septikemi.
H.
Management
Klinis
1.
Istirahat di tempat
tidur sampai terdapat perbaikan ikterus, asites, dan demam.
2.
Diet rendah protein
(diet hati III protein 1gr/kg BB, 55 gr protein, 2.000 kalori). Bila ada asites
diberikan diet rendah garam II (600-800 mg) atau III (1.000-2000 mg). Bila
proses tidak aktif diperlukan diet tinggi kalori (2.000-3000 kalori) dan tinggi
protein (80-125 gr/hari). Bila ada tanda-tanda prekoma atau koma hepatikum,
jumlah protein dalam makanan dihentikan (diet hati II) untuk kemudian diberikan
kembali sedikit demi sedikit sesuai toleransi dan kebutuhan tubuh. Pemberian
protein yang melebihi kemampuan pasien atau meningginya hasil metabolisme
protein, dalam darah viseral dapat mengakibatkan timbulnya koma hepatikum. Diet
yang baik dengan protein yang cukup perlu diperhatikan.
3.
Mengatasi infeksi dengan
antibiotik diusahakan memakai obat-obatan yang jelas tidak hepatotoksik.
4.
Mempebaiki keadaan gizi
bila perlu dengan pemberian asam amino esensial berantai cabang dengan glukosa.
5.
Roboransia. Vitamin B
compleks. Dilarang makan dan minum bahan yang mengandung alkohol.
Penatalaksanaan asitesis dan edema adalah
:
1.
Istirahat dan diet
rendah garam. Dengan istirahat dan diet rendah garam (200-500 mg perhari),
kadang-kadang asitesis dan edema telah dapat diatasi. Adakalanya harus dibantu
dengan membatasi jumlah pemasukan cairan selama 24 jam, hanya sampai 1 liter
atau kurang.
2.
Bila dengan istirahat
dan diet tidak dapat diatasi, diberikan pengobatan diuretik berupa
spironolakton 50-100 mg/hari (awal) dan dapat ditingkatkan sampai 300 mg/hari
bila setelah 3 – 4 hari tidak terdapat perubahan.
3.
Bila terjadi asites
refrakter (asites yang tidak dapat dikendalikan dengan terapi medikamentosa
yang intensif), dilakukan terapi parasentesis. Walupun merupakan cara
pengobatan asites yang tergolong kuno dan sempat ditinggalkan karena berbagai
komplikasinya, parasentesis banyak kembali dicoba untuk digunakan. Pada umunya
parasentesis aman apabila disertai dengan infus albumin sebanyak 6 – 8 gr untuk
setiap liter cairan asites. Selain albumin dapat pula digunakan dekstran 70 %
Walaupun demikian untuk mencegah pembentukan asites setelah parasentesis,
pengaturan diet rendah garam dan diuretik biasanya tetap diperlukan.
4.
Pengendalian cairan
asites. Diharapkan terjadi penurunan berat badan 1 kg/hari. Hati-hati bila
cairan terlalu banyak dikeluarkan dalam suatu saat, dapat mencetuskan
ensefalopati hepatik
BAB III
STUDI KASUS
a.
Studi kasus
Tn. A , 54
tahun adalah seoarang pengusaha, menikah dan mempunyai 4 orang anak. Dia senang
menkonsumsi alcohol terutama wisky. Empat tahun yang silam, Tn.A sudah
didiagnosis chirosrhis hepatis. Dia sudah sering mengalami nausea,
vomiting, hematemesis dan bahkan sering
dijumpai adanya darah dalam feces.
Kulit
kelihatan kuning, perut besar dan merasa tidak nyaman, Pada pemeriksaan fisik :
abdomen distended, lingkar perut meningkat, jaundice+(++),. Medical tim sudah
menegakkan diagnose Asites dan akan melakuakn tindakan paracentesis
abdomen.Vital sings : S = 37ÂșC, BP = 100/60mmHg, HR= 86 x/menit, dan R/R= 26 x/
mnt.
b.
Pembahasan
Dari contoh
kasus di atas dapat tanda dan gejala yang dialami nausea, vomiting disebabkan
pembentukan empedu terganggu menyebabkan
lemak tidak dapat diemulsikan dan tidak dapat diserap oleh usus halus, sehingga
terjadi peningkan pada usus dan lambung.
Gejala
hematemesis dan melena disebabkan
distensi pembuluh darah yang membentuk
varises dan hemoroid tergatung lokasi nya, adanya tekanan yang tinggi
menyebabkan rupture dan perdarahan. Sifat perdarahan yang ditimbulkan ialah muntah
darah biasanya mendadak tanpa didahului rasa nyeri. Darah yang keluar berwarna
kehitam-hitaman dan tidak akan membeku karena sudah bercampur dengan asam
lambung. Penyebab lain adalah tukak lambung dan tukak duodenum.
Pemeriksaan fisik kasus diatas
ditemukan abdomen distended, dan lingkar perut meningkat terjadi akibat
gangguan pada fungsi hati, sebagai pengatur
keseimbangan cairan dan elekterolit
terganggu, dan
semua
cairan dan garam akan melewati hati sebelum ke jaringan ekstraseluler lainnya, tetapi tertahan di rongga gastrosintestinal,
penyebab lain juga terjadi pada Hipertensi portal yang mengakibatkan penurunan volume intravascular sehingga
perfusi ginjal menurun. Hal ini meningkatkan aktifitas plasma rennin sehingga
aldosteron juga meningkat. Aldosteron berperan dalam mengatur keseimbangan
elektrolit terutama natrium. Dengan peningkatan aldosteron maka terjadi retensi
natrium yang pada akhirnya menyebabkan retensi cairan dan lama lama menyebabkan
ascites dan edema. Penimbunan cairan intraperitoneal yang mengandung
sedikit protein, disebabkan terjadi peningkatan
tekanan hidrostatik pada kapiler usus dan penurunan
osmotik koloid akibat hipoalbuminemia.
Jaundice atau kekuningan disebabkan oleh fungsi hati sebagai ekskresi
bilirubin teranggu, bilirubin adalah pigmen yang berasal dari pemecahan
hemoglobin oleh sel- sel pada
system retikuendotelial yang mencakup
sel- sel kufer dari hati. Hepatosit mengeluarkan bilirubin dari dalam darah dan
melalui reaksi kimia mengubahnya lewat konjugasi menjadi asam glukoranat yang
membuat bilirubin lebih dapat larut didalam larutan yang lebih encer. Bilirubin
terkonjugasi disekresikan oleh hepatosit kedal kanalikulus empedu didekatnya
dan akhirnya di bawa dalam empedu ke duodenum. Konsentrasi bilirubin dalam
darah dapat meningkat bila terjadi penyakit hati sehingga bilirubin tidak dapat
diserap, dan bila aliran empedu
terhalang atau bila terjadi penghancuran sel- sel darah merah yang berlebihan,
pada obstruksi saluran empedu bilirubin tidak memasuki intestinum dan sebagai
akibatnya urobilinogen tidak terdapat dalam urin.
DAFTAR PUSTAKA
Joane C. Mc. Closkey,
Gloria M. Bulechek, 2006, Nursing Interventions Classification
(NIC), Mosby Year-Book, St. Louis
Suzanne Sargent, 2009, Liver Diseases: An essential guide for
nurses and health care professionals, Blackwell Publishing Ltd, West
Sussex, United Kingdom
Kuncara, H.Y, dkk, 2002, Buku Ajar
Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth, EGC, Jakarta
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare, (2001), Keperawatan
medikal bedah 2. (Ed 8). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Aru Sudoyo, 2009, Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit
FKUI, Jakarta.
Inayah Iin, dkk, 2004.Ilmu Penyakit Dalam Edisi 2.ECG:Jakarta